+62 24 8312162

Hot Line Number

+62 24 8446048

Fax

Jl. Sompok Lama no. 62c Semarang

Kantor Pusat

KEBAIKAN itu INDAH

13 Oct

KEBAIKAN itu INDAH

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pengalaman hidup saya bercerita bahwa KEBAIKAN itu  INDAH, baik bagi yang memberi maupun yang menerima. Saya pernah dipanggil Tuhan Yesus oleh seorang ibu dari seorang anak laki-laki kelas IV SD yang saya belikan kaca minus 4,5 (pada waktu itu ibu tersebut belum menjadi orang percaya). Rasul Paulus mengingatkan kita semua, “Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.” (2 Tesalonika 3:13)

Gede Prama (Pengusaha, filsuf dan penulis asal Bali) berkata, “Kebaikan adalah nyanyian indah yang bisa didengar oleh orang tuli, sekaligus bunga indah yang bisa dilihat oleh orang buta.”

Saudara, dari cerita-cerita tema-teman, ada cukup banyak orang percaya yang menjadi trauma untuk berbuat baik, karena mereka punya pengalaman yang pahit ketika mereka berbuat baik.

Mari kita belajar dari seorang petani. Petani menanam padi, jagung atau sayuran.  Pada saat bersamaan tumbuh pula rumput atau ilalang di sawah atau di ladang tersebut.  Namun anehnya, andaikan petani itu menanam rumput,  ia tidak akan pernah mendapati padi atau sayuran turut tumbuh di sana. 

Demikian juga dalam kehidupan ini.  Ketika kita melakukan perbuatan baik terkadang hal-hal buruk datang menyertai, entah itu berupa: Ditipu, disalahmengerti, dicibir, difitnah, dan lain-lain.  Jika demikian haruskah kita berhenti berbuat baik ketika orang lain tidak membalas kebaikan kita? Haruskah kita berhenti berbuat baik ketika responsnya justru  menyakitkan atau merugikan kita? 

Kalau kita berbuat baik hanya sekadar untuk membalas kebaikan orang lain, atau dengan tujuan mendapatkan balasan yang sama, apalah artinya?  Tuhan Yesus bersabda, “Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.”  (Lukas 6:33). Mari renungkan dalam-dalam nasihat  Rasul Paulus,   “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”  (Galatia 6:9).

Jadi tidak ada istilah  rugi atau buntung  ketika kita melakukan perbuatan baik kepada orang lain, sebab pada saatnya kita akan menuai.  Ada tertulis:  “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri,” (Amsal 11:17). 

Kita memang perlu hati-hati dan lebih cermat dalam memberi pertolongan. Kita perlu berusaha untuk tahu siapa sebenarnya yang hendak kita tolong. Tapi sebagai orang percaya, berbuat baik adalah suatu keharusan, buah dari keselamatan yang telah kita terima, dan merupakan bukti kita memiliki iman yang hidup!

Ingatlah! Mother Teresa (Biarawati asal Roma yang melayani di India) berkata, “Jangan biarkan setiap orang yang datang pada anda, pergi tanpa merasa lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah ungkapan hidup dari kebaikan Tuhan. Kebaikan dalam wajah anda, kebaikan dalam mata anda, kebaikan dalam senyum anda.” Mati kita camkan apa yang dikatakan Rasul Yohanes, “Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.”  (3 Yohanes 1:11b). GBU & Fam. Betters days are coming. (pg)

Leave a Reply